BrandExcellence.id – Dalam upaya mencapai swasembada pangan, PT Pupuk Indonesia (Persero) memaparkan dua strategi utama yang akan menjadi kunci keberhasilan. Pada acara “Indonesia Future Policy Dialogue” yang digelar di Jakarta, Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, mengungkapkan rencana perusahaan dalam lima tahun ke depan. Dua strategi kunci ini adalah meningkatkan kapasitas produksi pupuk dan mengoptimalkan distribusi dengan teknologi digital.

Menurut Rahmad, Pupuk Indonesia berkomitmen untuk menambah kapasitas produksi pupuk hingga 2 juta ton dalam lima tahun mendatang. Namun, ia menekankan bahwa peningkatan kapasitas produksi saja tidak cukup. Salah satu aspek penting lainnya adalah memastikan ketersediaan pupuk di lapangan dengan distribusi yang transparan dan tepat sasaran. Untuk itu, Pupuk Indonesia telah mengimplementasikan sistem digital yang disebut i-Pubers, yang memungkinkan pemantauan distribusi pupuk secara real-time dari pabrik hingga kios pupuk di seluruh Indonesia.
“Melalui sistem i-Pubers, distribusi pupuk menjadi lebih transparan dan efisien. Sistem ini sudah diterapkan di lebih dari 27.000 kios pupuk pada awal tahun 2024,” jelas Rahmad. Sistem ini diharapkan dapat menjamin bahwa pupuk sampai ke petani secara tepat waktu dan dalam jumlah yang dibutuhkan.
Selain ketersediaan, Rahmad juga menekankan pentingnya keterjangkauan harga pupuk bagi petani. Ia menjelaskan bahwa setiap kenaikan harga pupuk sebesar Rp1.000 per kilogram dapat berdampak pada pengurangan penggunaan pupuk urea hingga 13 persen dan NPK hingga 14 persen. Hal ini, menurutnya, bisa menyebabkan penurunan produktivitas pangan sebesar 0,5 ton per hektar serta menurunkan pendapatan petani hingga Rp3,1 juta per hektar.

Seiring dengan tantangan yang dihadapi sektor pertanian Indonesia, seperti cuaca ekstrem akibat fenomena El Niño, Rahmad menegaskan pentingnya kolaborasi antara berbagai pemangku kepentingan untuk mencapai swasembada pangan. “Ini saatnya gotong royong. Semua pihak harus bekerja sama untuk mencapai swasembada pangan, mulai dari pemerintah, kementerian terkait, hingga perusahaan pupuk seperti kami,” tuturnya.
Dengan visi ini, Pupuk Indonesia optimis bahwa kebijakan yang telah diambil oleh pemerintah saat ini, termasuk penetapan harga gas untuk industri pupuk, akan terus mendukung keberlanjutan sektor pertanian Indonesia. Rahmad pun menyampaikan harapannya agar di bawah pemerintahan yang akan datang, kesejahteraan petani dapat terus meningkat, tidak hanya tersenyum tetapi juga tertawa lebar karena kemudahan akses pupuk yang tersedia di seluruh negeri.
Sebagai produsen pupuk urea terbesar di Asia, Timur Tengah, dan Afrika Utara, Pupuk Indonesia memiliki kapasitas produksi yang mencapai 14,6 juta ton per tahun. Dukungan operasional dari sepuluh anak perusahaan juga memastikan kelancaran distribusi pupuk ke seluruh wilayah Indonesia, menjadikan Pupuk Indonesia sebagai ujung tombak dalam mendukung ketahanan pangan nasional.