
Tantangan dan Peluang dalam Literasi Asuransi
Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hanya 32% masyarakat Indonesia yang memahami asuransi, dan dari jumlah tersebut, hanya 16% yang memiliki polis. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat terhadap pentingnya asuransi masih sangat terbatas. Sebagai negara yang berada di zona Cincin Api Pasifik, Indonesia memiliki risiko tinggi terhadap bencana alam. Namun, asuransi belum dianggap sebagai kebutuhan primer oleh sebagian besar masyarakat.
Tantangan lainnya adalah kasus gagal bayar yang pernah terjadi di beberapa perusahaan asuransi, yang semakin menurunkan kepercayaan masyarakat. Meski demikian, pemerintah telah mengambil langkah strategis dengan Peta Jalan Pengembangan dan Penguatan Perasuransian Indonesia 2023-2027 yang mencakup penguatan regulasi, transformasi digital, dan pengembangan ekosistem asuransi. Kebijakan Third Party Liability (TPL) yang akan diterapkan pada 2025 diharapkan mampu meningkatkan penetrasi asuransi menjadi 3,2% pada 2027.
Digitalisasi: Solusi Efektif untuk Perluasan Akses
Transformasi digital menjadi peluang besar bagi industri asuransi untuk menjangkau lebih banyak masyarakat. Dengan platform daring, masyarakat dapat memilih polis sesuai kebutuhan secara mudah dan cepat tanpa harus melalui prosedur yang rumit. Selain itu, biaya overhead dan komisi agen dapat ditekan, sehingga premi menjadi lebih terjangkau.
Digitalisasi ini juga sesuai dengan demografi Indonesia yang didominasi oleh generasi muda, yang cenderung akrab dengan teknologi. Marketplace seperti Lifepal telah membuktikan efektivitas digitalisasi dalam menyederhanakan proses pembelian asuransi. Sebagai platform independen, Lifepal memungkinkan konsumen membandingkan berbagai produk asuransi secara langsung, memberikan kebebasan dan kenyamanan dalam memilih.
Lifepal: Meningkatkan Literasi dan Aksesibilitas Asuransi
Lifepal berkomitmen untuk mendukung pemerintah meningkatkan literasi asuransi. Melalui ratusan artikel edukatif, Lifepal terus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya asuransi dalam mengelola risiko. Selain itu, Lifepal menawarkan layanan konsultasi gratis dan panduan transparan, membantu nasabah menemukan polis yang sesuai dengan kebutuhan.
Dengan pendekatan digital, Lifepal mempermudah masyarakat mengakses produk asuransi yang cepat, terjangkau, dan transparan. Langkah ini sejalan dengan visi Lifepal untuk menjadikan asuransi sebagai pengalaman yang sederhana dan bermanfaat bagi semua.
Peningkatan penetrasi asuransi di Indonesia membutuhkan upaya kolaboratif antara pemerintah, industri, dan masyarakat. Literasi dan digitalisasi adalah kunci untuk mengatasi tantangan ini. Dengan dukungan inovasi digital seperti yang dilakukan Lifepal, Indonesia optimis menuju masa depan asuransi yang lebih inklusif dan berkembang. (Disarikan dari tulisan Eko Waluyo, Presiden Direktur Lifepal)